Kembali ke Beranda
Psychology

Capek Nggak, Sih, Dikomentari Terus Soal Parenting?

Baru jadi orang tua, tapi rasanya semua orang tiba-tiba jadi ahli.

Cara kita menenangkan anak dikomentari. Screen time diperdebatkan. Pola makan dibandingkan.

And somehow, it sticks.

Komentar tentang parenting jarang terasa netral.
Bukan cuma soal cara, tapi terasa seperti penilaian:
"Aku ibu yang salah, ya?"

Kenapa Komentar Parenting Terasa Lebih Menyakitkan?

Karena parenting itu personal.
Kita tidak hanya merawat anak, kita mempertaruhkan hati, waktu, dan identitas.

Most comments are not meant to hurt.

Tapi tidak semua komentar perlu kita simpan.

Tidak Semua Opini Perlu Masuk ke Kepala

Sebelum kamu memikirkannya terlalu jauh, pause.

Tanya diri sendiri:

  • Apakah orang ini benar-benar tahu kondisi keluargaku?
  • Apakah ini relevan dengan anakku?
  • Apakah ini masukan, atau hanya kebiasaan lama?

If it doesn't fit your values, you're allowed to let it go.

Overthinking Bukan Lemah

Kalau kamu jadi kepikiran setelah dikritik, itu bukan tanda gagal.
Itu tanda kamu peduli.

The problem is not thinking too much, it's thinking without boundaries.

Alihkan fokus dari:
"Apa kata mereka?"
menjadi:
"Apa yang paling sehat untuk kami?"

Kamu Tidak Harus Menjelaskan Segalanya

Kadang, jawaban paling sehat adalah yang paling sederhana:

  • "Terima kasih, nanti aku pikirkan."
  • "Untuk sekarang, ini yang paling cocok buat kami."

You don't owe everyone an explanation.

Parenting bukan lomba.
Bukan juga pertunjukan untuk dinilai.
Kalau hari ini kamu lelah karena terlalu banyak suara dari luar, ingat ini:
Anakmu butuh kehadiranmu, bukan kesempurnaanmu.
And that… is already enough.